A Perfect Universe

March 6th, 2019 § 0 comments § permalink

I read about the gilets jaunes in France who have been in the news for a few months now. It seems that the protests and the government’s response to them have become more violent lately.

Is the world really becoming more violent? Or has violence always been an inseparable part of human existence, and we’re just hearing more of it due to the fact that information from all corners of the world is now accessible from the tap or swipe of your fingers?

I’m thinking that both could be true. Disagreement is a logical consequence of the diversity of the human condition. It will always be with us.

But as technology allows us to be more connected to each other, it also exposes us to the different ways that people do and think about things. There lies the increased potential for disagreement and conflict.

So, since technology always advances and diversity is part and parcel of our worldly existence, does this mean that violence will always continue to escalate until humanity destroys itself?

I’d like to think that’s not the case.

An important part of the equation is the human ability to empathize. Humanity has evolved this powerful trait to help the survival of our species. The homo species thrives because we are able to cooperate and have the capacity to coordinate our cooperation. You can’t cooperate when there aren’t anyone else you can cooperate with. As a result, ensuring the survival of others is in fact ensuring your own survival. In other words, humanity needs empathy to survive.

This is the thinking that underlies my new release, “A Perfect Universe,” a contemplative pop/jazz tune with a hopeful message. The song has a few parts with different moods to reflect changes from a somber, more serious tone, to an upbeat, more optimistic atmosphere.

And that is my hope for humanity. Things may seem bleak and gloomy when one follows the news around the globe. But there is always reason to feel hopeful and optimistic.

Please go ahead and enjoy this release through the below. As always, you can also buy a digital copy on Bandcamp.

Have a Happy Birthday!

January 26th, 2019 § 0 comments § permalink

Have a Happy Birthday song art

I had my birthday on January 21. So I think it’s fitting to release another single which is actually a birthday song. It is an upbeat pop/rock tune with a touch of jazz/funk.

According to a review on The Bandcamp Diaries, “…this song has just what it takes to brighten up your day and improve your mood.” And that is exactly what I want the song to do.

So please head on over to your favorite music platform to enjoy this tune through the following link: https://song.link/i/1449492385. You can also buy a digital copy on Bandcamp here.

On Cloud Nine is in Acoustic Country

January 2nd, 2019 § 0 comments § permalink

Here’s a great news to start 2019. The wonderful and talented Barry McLoughlin has accepted my single, On Cloud Nine, into his Spotify playlist, Acoustic Country.

I encourage you to enjoy his wonderful repertoire and follow this playlist on Spotify to enjoy my track along with other songs such as Barry’s Slow Dancer, I Lived It by Blake Shelton, Wait Up For Me by Amos Lee, and others.

Welcome 2019

December 31st, 2018 § 0 comments § permalink

It’s that time of the year again, where we celebrate the passing of the year itself as it is replaced with another. It really is trivial, but we human beings are masters at finding meanings in meaningless things.

It may be argued that meanings exist only because we ascribe them to things that are related to us. You, readers, dwindling as your numbers may be, are meaningful to me, for example.

And as you are indeed meaningful to me, I want all the best things to happen to you. I hope we’ll take all the lessons and experiences of the passing year to heart, and let’s make 2019 the best year ever.

Happy New Year!

Musical pursuits

December 30th, 2018 § 0 comments § permalink


Some of you who know me personally are aware that I’ve always been somewhat musical. But probably not too many know that I am actually some kind of a musician too.

My parents bought me a Casio mini keyboard when I was in first grade; I don’t remember what the occasion was. It was one which had a library of popular old 60s-70s songs in the form of electronic sheet music with some predefined arrangements. Not too long after learning how to play the keyboard on my own, I was able to play the melodies and chord fingering of a few numbers like The Beatles’s Yesterday, Sinatra’s My Way and Yesterday Once More by The Carpenters.

I knew then that I had some musical inclinations. I have two older brothers who are quite a bit older than me; the youngest one being eight years my senior and the oldest one is ten years older than me. They were both playing in bands and I sort of tagged along every once in a while.

I also played in bands in high school and in college. My high school band actually had some local TV gigs, but none had any real serious impact even though we had our own songs and some demo mixtapes.

After college, I dabbled in self publishing, both as a solo musician and as a part of a band. But in hindsight I realize I did not put enough effort into it or was just too lazy to try that it never made any meaningful result.

So afterward I found more gainful employment in the linguistic arena by becoming a translator, interpreter and copywriter, first as a freelancer, then in corporate settings and then finally now as an owner of a firm that employs linguists.

Now that I am able to put food on my family’s table, the music itch on my back is starting to come back. And now I’ve decided to scratch that itch.

I’ve been trying to update myself with the workings of digital music distribution. After considering my options with the help of this very helpful review by indie artist Ari Herstand, I’ve signed up with the digital distributor DistroKid, which allows me to upload unlimited number of songs for an annual fee.

So this is the story behind the release of my first single On Cloud Nine, which is a bluesy rock/pop tune that I’ve actually had since high school, but now updated with English lyrics. It is now available everywhere that DistroKid distributes music to. Here are some of them.

So please join me in my musical journey and if you like what you’re hearing, feel free to spare a few pennies for this struggling artist 🙂

Kenapa yang dilarang tidak hilang?

May 1st, 2015 § 0 comments § permalink


A: Sukurin tuh ada lagi orang osi yang ketangkep bawa obat! Ribut melulu sih!
B: Kesian.
A: Biarin aja. Nyebelin.
B: Gue sih gak tega.
A: Emang kenapa sih? Pengedar aja dibelain?
B: Gue gak setuju pemerintah dibolehin membunuh orang.
A: Tapi kan di sini peraturannya emang gitu?
B: Gini aja sih, elu pernah berurusan sama hukum nggak?
A: Pernah, emang kenapa?
B: Menurutlo elo diperlakukan secara adil ketika berurusan sama hukum?
A: Hmmm, ya nggak jelas juga sih.
B: Elo pernah denger gak orang kemalingan ayam kalo dibawa ke polisi jadi kehilangan kambing?
A: Iya juga sih, tapi itu kan oknum.
B: Ya sekali dua kali sih oknum, tapi kalo begitu sering terjadinya sampai ada anggapan umum seperti itu masak masih nyalahin oknum?
A: Ya mungkin sistem hukum kita memang belom sempurna sih…
B: Nah elo yakin sistem hukum yang ‘belom sempurna’ itu, yang bisa bikin orang kehilangan ayam jadi kehilangan kambing, yang bisa membuat pejabat berekening gendut gak jelas sumbernya bebas melenggang tanpa konsekuensi, menurutlo sistem seperti itu bisa dipercaya menentukan hidup-matinya seseorang?
A: Tapi kan emang peraturannya begitu?
B: Iya ya? Tapi kan grasi juga salah satu bagian dari peraturan yang berlaku di sini. Apa pun kata pengadilan, sebetulnya harusnya selalu masih ada ruang untuk memberikan pengampunan. Biasanya sistem hukum masih menyisakan ruang bagi empati dan kemanusiaan, karena sebagus apa pun suatu sistem hukum, dia tetap aja buatan manusia dan dijalankan oleh manusia, semuanya bisa melakukan kesalahan. Misalnya di sistem Common Law, untuk kasus kejahatan serius biasanya melibatkan orang biasa yang ditunjuk untuk menjadi juri. Di sistem hukum di sini, ruang bagi empati dan rasa kemanusiaan itu antara lain diberikan lewat grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi. Memang peraturan yang ada mengancam hukuman mati untuk kasus terkait narkoba, tapi bukan berarti yang terkait kasus narkoba harus selalu dijatuhi hukuman mati.
A: Ya yang berhak ngasih grasi kan presiden, dan dia udah berjanji nggak akan ngasih grasi untuk kasus narkoba.
B: Nah itu juga perlu dikritik sebetulnya.
A: Kenapa?
B: Itu menurut gue dia sama saja nggak mau melakukan tanggung jawabnya untuk jadi pengimbang kekuasaan kehakiman. Artinya dia nggak mau melihat secara kasus per kasus apakah ada unsur lain yang sebetulnya bisa dijadikan pertimbangan untuk meringankan hukuman yang diberikan kepada seorang terpidana. Padahal, grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi juga adalah bagian dari sistem hukum di sini. Bisa dibilang bagian penting malah.
A: Dia kan merasa narkoba adalah masalah darurat bagi bangsa. Jadi harus dihukum seberat-beratnya.
B: Itu juga yang bikin sebagian orang geregetan sih.
A: Kenapa?
B: Di berbagai tempat di dunia, orang mulai menyadari bahwa melarang narkoba justru merugikan, bukan membantu menyelesaikan masalah narkoba, dan mulai mencermati apakah sebetulnya masalah yang selama ini dianggap merupakan akibat penggunaan narkoba sebetulnya justru merupakan ekses dari pelarangan narkoba.
A: Wah, ngaco banget tuh. Maksudnya gimana?
B: Ya misalnya yang menurutlo masalah karena penggunaan narkoba itu apa?
A: Ya drugs itu kan adiktif banget. Bahaya bagi siapa pun yang mengonsumsinya.
B: Emang betul, zat-zat yang termasuk psikotropika atau mind-altering drugs itu cenderung adiktif, tapi kecanduan itu sebetulnya masalah kriminal atau masalah kesehatan? Selain itu banyak juga lho zat-zat yang bisa dikonsumsi secara legal juga tak kalah mencandunya. Rokok, misalnya. Elu ngerokok kan?
A: Iya.
B: Bagaimana kalo rokok dilarang?
A: Berarti gua harus berhenti ngerokok.
B: Nah elo mungkin bisa begitu, tapi sebagian orang yang lain, mungkin yang sudah sangat kecanduan, mungkin akan mencari sumber lain yang tidak legal kalo rokok dilarang. Artinya melarang sesuatu bukan berarti sesuatu itu akan lenyap begitu saja dari muka bumi. Inget kan hukum supply and demand? Kalo sesuatu itu dilarang, supply-nya kan jadi berkurang, padahal biasanya akan tetap ada demand-nya. Karena itu, harganya jadi tinggi dan karena harga yang tinggi itu, pasti tetap ada yang akan tertarik untuk ‘gambling’ dan mencoba jadi pemasok barang itu, karena potensi untungnya gede banget. Padahal kalau sesuatu itu tidak legal, jadi sulit kan memastikan produk itu aman dan produsennya bertanggung jawab?
A: Iya lah, mereka dianggap penjahat kan berarti?
B: Betul, dan menurut “iron law of prohibition” semakin keras suatu zat dilarang, semakin tinggi potency zat tersebut di pasar gelap. Itu juga udah pernah diteliti oleh Mark Thornton dari Cato Institute (http://www.cato.org/pubs/pas/pa-157.html). Dan memang benar, semakin besar dana penegakan hukum narkoba di AS, semakin tinggi tingkat potency marijuana yang beredar di sana. Jadi mungkin bisa dibilang juga masalah kecanduan obat itu salah satu penyebabnya adalah justru karena obat itu dilarang.
A: Jadi menurutlo orang harusnya bebas aja jual beli narkoba?
B: Menurut gue masalah narkoba jangan lagi dilihat sebagai masalah kriminal, tapi ditangani dengan pendekatan kesehatan masyarakat. Gue juga nggak pake narkoba dan nggak mau anak dan keluarga gue pake narkoba, tapi menurut gue melarang narkoba sebagai perkara kriminal itu seperti menyembunyikan masalah itu di balik karpet dan menganggapnya seolah-olah nggak ada.
A: Tapi kan gambling banget tuh kalo misalnya narkoba dibolehin, terus masalahnya jadi tambah parah gimana?
B: Udah ada beberapa tempat yang mendekriminalisasi kepemilikan narkoba sih. Yang sering dijadikan contoh Portugal, misalnya. Di situ, mereka ngeluarin UU baru tahun 2001 yang menghilangkan hukuman pidana atas kepemilikan narkoba bagi penggunaan pribadi. Hasilnya menurutlo apa?
A: Tambah banyak dong yang ngobat di sana?
B: Justru sebaliknya, tingkat penggunaan narkoba di sana malah turun secara bertahap. Di kalangan remaja kelas 7-10, misalnya, turun dari 14,1% jadi 10,6%. Begitu juga di kalangan siswa SMA. Yang mengesankan, berbagai konsekuensi negatif penggunaan narkoba paling drastis turunnya. Misalnya, infeksi HIV di kalangan pengguna turun dari 1.400 kasus di tahun 2000 jadi tinggal 400 kasus di tahun 2006. Jumlah kematian karena overdosis turun hampir setengahnya. Coba deh elo baca sendiri laporannya di sini: http://object.cato.org/sites/cato.org/files/pubs/pdf/greenwald_whitepaper.pdf
A: Terus berarti kalo banyak yang mulai mencoba dekriminalisasi gitu, kenapa di sini belom kedengeran apa-apa ya?
B: Ya nggak tau juga. Bisa jadi karena selalu ada kelompok yang berkepentingan dengan adanya perang terhadap narkoba ini.
A: Kepentingannya gimana?
B: Misalnya badan atau organisasi yang diserahi tanggung jawab memerangi narkoba. Semakin masyarakat merasa ‘terancam’ oleh masalah narkoba, semakin besar tekanan untuk memeranginya, dan semakin banyak dana yang dialokasikan untuk kepentingan itu. Menurutlo kira-kira siapa yang dapat dananya?
A: Mereka pastinya.
B: Betul, dan banyak juga orang-orang yang berpengaruh, pejabat pemerintah, petinggi militer, dll, yang ada di situ. Dan jangan lupa, bandar dan pengedar narkoba juga diuntungkan oleh status narkoba yang ilegal. Kalau bisnis narkoba dilegalkan dan dilakukan secara terbuka, semakin banyak pihak yang akan memasuki bisnis tersebut sehingga kompetisinya semakin banyak dan harganya akan turun. Artinya mereka tidak lagi bisa menikmati laba berlipat-lipat seperti sekarang ini.

Rokok elektronik: Anugerah atau bencana?

November 27th, 2014 § 0 comments § permalink


Isu rokok memang seolah tidak pernah selesai dibahas. Di satu sisi, kebiasaan merokok sudah sangat mendarah daging bagi banyak orang sehingga mereka sangat sulit berhenti merokok walaupun kampanye antirokok semakin gencar dilakukan. Di sisi lain, risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh konsumsi rokok memang cukup nyata dan perlu mendapat perhatian serius.

Oleh karena itu, wajar bila banyak kalangan, terutama perokok, menyambut gembira hadirnya perangkat temuan ahli farmasi asal Tiongkok, Hon Lik, yang mematenkan rokok elektronik atau e-cigarette pada tahun 2003. Tidak seperti rokok biasa, perangkat ini memadukan elemen pemanas dengan cartridge atau wadah berisi cairan (bisa mengandung nikotin, bisa tidak) yang diatomisasi menjadi uap yang kemudian diisap oleh penggunanya.

Mekanisme ini terkesan terinspirasi oleh shisha, di mana cairan yang disiapkan dari rendaman daun tembakau, molase dan gliserin dipanaskan menjadi uap. Tapi berbeda dari shisha, perangkat e-cigarette­ ringkas dan mudah dibawa-bawa, sehingga praktis dan mudah dinikmati oleh penggunanya seperti rokok biasa. Ditambah dengan kemampuan e-cigarette untuk memberikan pengalaman yang mirip dengan merokok, tak aneh bila produk ini mendapat sambutan yang sangat baik dari konsumen.

Tentu ini menjadi kabar gembira juga bagi para pegiat kesehatan. Betapa tidak, kini para perokok mendapatkan produk alternatif yang memberikan kepuasan yang hampir sama, tapi dengan risiko kesehatan yang jauh lebih kecil daripada rokok biasa. Akhirnya para perokok tidak perlu lagi dipaksa untuk berhenti merokok menggunakan alat-alat bantu seperti terapi penggantian nikotin, karena banyak dari mereka yang dengan kemauan sendiri beralih menggunakan produk yang lebih aman tersebut.

Tetapi nyatanya tidak sesederhana itu. Sebagian pegiat kesehatan dan regulator justru menentang produk baru tersebut dengan berbagai alasan. Sementara itu, sebagian pihak lain sangat mendukung penggunaan e-cigarette sebagai produk alternatif yang mendukung tujuan pengurangan bahaya (harm reduction) dari penggunaan tembakau.

Contohnya, belum lama ini sejumlah media di Indonesia mengangkat isu penggunaan e-cigarette, dengan mengutip pendapat sejumlah kalangan, dari pihak pemerintahan hingga ahli kesehatan. Cukup disayangkan bahwa dari sejumlah pemberitaan tersebut sepertinya tidak ada yang menyampaikan pendapat dari pihak pendukung e-cigarette ataupun dari para pengguna produk ini (yang kini sering disebut “vaper“). Dan yang lebih disayangkan lagi, banyak dari pendapat yang terungkap dalam pemberitaan tersebut sebenarnya bukanlah merupakan isu baru dan lebih merupakan mitos daripada fakta.

Di sini penulis akan mencoba membahas beberapa isu tersebut. Sebagai informasi, penulis tidak memiliki kepentingan finansial dari produk e-cigarette atau produk-produk pelengkapnya. Penulis hanyalah salah satu dari sekian banyak vaper yang telah secara drastis mengurangi ketergantungan terhadap rokok berkat hadirnya e-cigarette, merasakan sendiri pernafasannya menjadi kembali lega karenanya, dan selama ini mencoba mencari informasi secara mandiri mengenai produk ini dan berupaya menelaahnya secara kritis.

Mitos no. 1: Tidak ada bukti bahwa e-cigarette mampu membuat orang berhenti mengonsumsi rokok.

Fakta yang ada justru berbicara sebaliknya. Dari sisi bisnis, pasar e-cigarette menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, bahkan tumbuh hingga dua kali lipat selama beberapa tahun belakangan, ketika pasar rokok konvensional secara umum menunjukkan penurunan, terutama di negara-negara maju.[1] Ini secara sepintas menunjukkan beralihnya para perokok dari rokok konvensional ke e-cigarette.

Dalam studi yang dipublikasikan bulan Oktober lalu oleh periset dari University of Massachussets ditemukan bahwa pengguna intensif e-cigarette (didefinisikan sebagai seseorang yang menggunakan e-cigarette setiap hari) 6 kali lipat lebih mungkin untuk berhenti merokok dibandingkan perokok yang tidak menggunakannya.[2]

Yang lebih mengesankan lagi, dalam uji klinis pertama atas e-cigarette di Italia yang dipublikasikan tahun lalu, 300 orang perokok yang tidak sedang berusaha berhenti merokok diberikan 3 jenis e-cigarette dengan kadar nikotin dan lama pemberian yang berbeda. Hasilnya, dari kelompok yang mendapatkan kadar nikotin terbesar (7,2 mg) dan pemberian yang paling lama (12 minggu), 13% berhenti merokok selama satu tahun. Dan dari ketiga kelompok tersebut, rata-rata 7,8 persen berhenti merokok. Tidak hanya itu, 70% dari mereka yang berhenti merokok juga berhenti menggunakan e-cigarette![3]

Bayangkan, ke-300 orang ini sama sekali tidak berniat ataupun berusaha berhenti merokok, namun cukup dengan menggunakan e-cigarette, sebagian dari mereka mampu berhenti merokok dan bahkan berhenti mengonsumsi nikotin sama sekali!

Mitos no. 2: E-cigarette ‘melatih’ orang yang belum pernah merokok untuk nantinya menjadi pengguna rokok konvensional.

Dilihat dari asal-usulnya, e-cigarette justru dilahirkan sebagai alat bagi penemunya untuk menggantikan kebiasaan merokoknya dengan menggunakan produk yang lebih aman. Dan memang benar, Hon Lik terinspirasi untuk merancang perangkat tersebut setelah menyaksikan sendiri kematian ayahnya akibat kanker paru-paru. Kurang masuk akal kalau alat temuannya tersebut dirancang justru untuk membuat orang yang tidak merokok menjadi perokok.

Selain itu, menurut data Centers for Disease Control and Prevention (pusat pengendalian penyakit AS), tingkat merokok di kalangan remaja AS turun hingga ke titik terendah (15,7%) pada tahun 2013.[4] Menariknya, menurut CDC sendiri, tingkat penggunaan e-cigarette di kalangan remaja meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2011-2012.[5] Bila benar e-cigarette ‘melatih’ orang yang belum pernah merokok menjadi pengguna rokok konvensional, tentu seharusnya peningkatan penggunaan e-cigarette di kalangan remaja tersebut juga akan menghasilkan peningkatan jumlah remaja yang mengonsumsi rokok konvensional. Tapi nyatanya justru hal sebaliknya yang terjadi. Perlu dicatat bahwa fenomena yang sama juga terjadi di Inggris.[6]

Dalam studi yang dilakukan oleh periset dari University of Oklahoma Health Sciences Center, AS, 1.300 orang mahasiswa yang rata-rata berusia 19 tahun diteliti mengenai pola konsumsi tembakau dan penggunaan e-cigarette mereka. Hasilnya, 43 orang mengaku bahwa produk nikotin pertama mereka adalah e-cigarette. Dari 43 orang tersebut, hanya satu orang yang mengaku berlanjut mengonsumsi rokok konvensional, dan sebagian besar di antara mereka pada saat riset sudah tidak lagi mengonsumsi nikotin.[7] Menurut periset Theodore Wagener, kebanyakan remaja dan orang dewasa yang menggunakan e-cigarette adalah mereka yang berupaya berhenti merokok atau setidaknya mengurangi risiko bahaya merokok. Menurutnya juga, ia tidak menemukan bukti bahwa e-cigarette merupakan pintu gerbang bagi penggunaan rokok konvensional di kemudian hari.

Mitos no. 3: E-cigarette lebih berbahaya dibandingkan rokok konvensional.

Mengingat e-cigarette merupakan produk relatif baru, memang tingkat keamanannya secara mutlak masih belum dapat diketahui bila digunakan secara rutin dalam jangka panjang. Akan tetapi sejauh yang diketahui berdasarkan sains dan bukti yang ada, sejatinya sudah cukup jelas bahwa e-cigarette jauh lebih aman daripada rokok konvensional.

Menurut salah satu pionir studi perilaku merokok Profesor Michael Russell, “Orang merokok untuk mendapatkan nikotin, tetapi mati karena tar.”[8] Seperti diketahui, tar merupakan zat yang dihasilkan oleh proses pembakaran rokok, dan tidak akan ada tanpa proses pembakaran tersebut. Demikian pula, menurut Royal College of Physicians, “…nikotin sendiri bukanlah suatu zat yang sangat berbahaya … bila nikotin dapat diberikan dengan cara yang dapat diterima dan efektif sebagai pengganti rokok, jutaan jiwa dapat terselamatkan.”[9] Dalam dokumen yang sama, disebutkan bahwa, “Nikotin dari rokok dibawa oleh asap yang juga mengandung ribuan zat kimia lain, termasuk karsinogen dan bahan beracun. Beberapa dari bahan tersebut sudah ada pada daun tembakau sebelum dibakar, namun sebagian besarnya adalah hasil dari proses pembakaran.”

Artinya, sebagian besar risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok, baik bagi perokok maupun orang di sekitar mereka, disebabkan oleh proses untuk mendapatkan nikotin dengan membakar daun tembakau kering (beserta bahan-bahan lainnya yang dibakar, termasuk kertas dan lem) pada rokok.

Nikotin sendiri bukanlah zat yang sangat berbahaya bila dikonsumsi dalam jumlah yang tidak sangat berlebihan. Nikotin merupakan zat yang terdapat secara alami tidak hanya pada tembakau, namun juga pada sejumlah tanaman lain yang biasa dikonsumsi manusia, seperti tomat, kentang, terung, teh, paprika dan kubis. Dengan kata lain, nikotin hanyalah senyawa alkaloid biasa seperti halnya kafein, misalnya. Bila dikonsumsi tanpa zat-zat lain yang terkandung dalam asap rokok, nikotin bahkan diindikasikan dapat membantu mengurangi risiko atau mengobati sejumlah penyakit yang berhubungan dengan fungsi kognisi dan otak, seperti Parkinson, ADHD, skizofrenia, sindrom Tourette, dan Alzheimer.[10]

Untuk e-cigarette sendiri, selain dari fakta bahwa tidak ada proses pembakaran dalam penggunaannya, sejumlah studi telah menunjukkan bahwa produk tersebut memang benar lebih aman daripada rokok konvensional. Contohnya, periset di Italia dan Yunani tahun lalu mempublikasikan studi yang menemukan bahwa uap yang dihasilkan oleh 21 jenis cairan e-cigarette memiliki sitotoksisitas (daya merusak sel) yang jauh lebih kecil dibandingkan asap rokok.[11]

Dalam studi lain yang dipublikasikan tahun 2013 di jurnal Tobacco Control, para peneliti menemukan bahwa konstituen kimiawi pada uap yang dihasilkan oleh 12 merek e-cigarette mengandung jumlah zat berbahaya yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh produk inhalasi nikotin (alat bantu berhenti merokok yang sudah disetujui penggunaannya, termasuk oleh lembaga pengawas obat AS, FDA), tapi 9 hingga 450 kali lebih sedikit dibandingkan rokok konvensional.[12]

Bagaimana dengan dampak uap e-cigarette terhadap orang di sekitar penggunanya? Dalam studi yang dipublikasikan jurnal Inhalation Toxicology bulan Oktober 2012,[13] para peneliti mengumpulkan emisi yang dihasilkan oleh sejumlah e-cigarette untuk mempelajari konsentrasi dari emisi kandungan tembakau yang dihasilkan dan membandingkannya dengan emisi asap rokok. Para peneliti menemukan bahwa uap e-cigarette hampir sama sekali tidak mengandung zat kimia yang terdapat dalam asap rokok. Mereka juga menyimpulkan bahwa tidak ada risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh emisi e-cigarette.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari fakta-fakta ini adalah e-cigarette jelas merupakan terobosan yang sangat berharga bagi siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap masalah kesehatan yang disebabkan oleh kebiasaan merokok. Menurut bukti yang sudah ada, harus disimpulkan bahwa produk ini berisiko jauh lebih kecil dibandingkan rokok konvensional, baik bagi penggunanya maupun bagi orang lain.

Memang sejauh yang kita ketahui, e-cigarette belum bisa dibilang 100 persen aman. Namun dengan logika yang sama, kopi, yang mengandung alkaloid berupa kafein yang juga merupakan neurotoksin seperti halnya nikotin, juga bukan produk yang 100 persen aman. Bahkan, air, yang merupakan sumber kehidupan pun bila dikonsumsi terlalu banyak bisa menyebabkan hiponatremia, yang dapat berakibat fatal. Seperti dinyatakan ilmuwan Renaisans Swiss, Paracelsus, sekitar lima abad lalu, yang membedakan apakah suatu zat beracun atau tidak hanyalah dosisnya.

Yang perlu diingat oleh siapa pun yang peduli terhadap risiko kesehatan merokok, nyawa jutaan perokok dapat diselamatkan dari risiko terkena penyakit terkait merokok dan kematian dini, cukup dengan mendorong mereka mengonsumsi produk yang terbukti dapat diterima dengan baik oleh banyak dari perokok, tanpa perlu merampas hak dan kebebasan mereka. Sebaliknya, menghambat atau bahkan melarang penggunaan e-cigarette sama saja dengan memaksa banyak orang yang telah beralih ke produk yang berisiko lebih kecil ini untuk kembali mengonsumsi rokok yang nyata-nyata lebih berbahaya.


[1] Robehmed N. E-cigarette Sales Surpass $1 Billion As Big Tobacco Moves In. Forbes. 17-9-2013. http://www.forbes.com/sites/natalierobehmed/2013/09/17/e-cigarette-sales-surpass-1-billion-as-big-tobacco-moves-in/

[2] Biener, L. and Hargraves, J. L. A longitudinal study of electronic cigarette use in a population-based sample of adult smokers: association with smoking cessation and motivation to quit. Nicotine & Tobacco Research . 9-10-2014. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25301815

[3] Caponnetto P, et al. Efficiency and safety of an electronic cigarette as tobacco cigarettes substitute: A prospective 12-month randomized control design study. PLos One. 24-6-2013. http://www.plosone.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0066317

[4] Centers for Disease Control and Prevention. 2013 Youth Risk Behavior Survey. http://www.cdc.gov/mmwr/pdf/ss/ss6304.pdf

[5] Centers for Disease Control and Prevention. E-cigarette use more than doubles among U.S. middle and high school students from 2011-2012. Situs web Centers for Disease Control and Prevention. http://www.cdc.gov/media/releases/2013/p0905-ecigarette-use.html

[6] Action on Smoking and Health UK. Smoking Rates Among Children in England Fall to Record Low. Situs web Action on Smoking and Health UK. 24-7-2014. http://www.ash.org.uk/media-room/press-releases/:smoking-rates-among-children-in-england-fall-to-record-low

[7] Goodman B. E-Cigarettes May Not Be Gateway to Smoking: Study. Situs web WebMD. 29-10-2013. http://www.webmd.com/smoking-cessation/news/20131029/e-cigarettes-may-not-be-gateway-to-smoking-study

[8] Russell M. Low-tar medium-nicotine cigarettes: a new approach to safer smoking. British Medical Journal 1976. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1640397/

[9] Tobacco Advisory Group of the Royal College of Physicians. Harm reduction in nicotine addiction: Helping people who can’t quit. Royal College of Physicians. October 2007. http://www.tobaccoprogram.org/pdf/4fc74817-64c5-4105-951e-38239b09c5db.pdf

[10] Hurley D. Will a Nicotine Patch Make You Smarter? [Excerpt]. Scientific American. 9-2-2014. http://www.scientificamerican.com/article/will-a-nicotine-patch-make-you-smarter-excerpt/

[11] Farsalinos KE, et al. Cytotoxicity evaluation of electronic cigarette vapor extract on cultured mammalian fibroblasts (ClearStream-LIFE): comparison with tobacco cigarette smoke extract. Inhalation Toxicology 2013; 25(6). http://informahealthcare.com/doi/abs/10.3109/08958378.2013.793439

[12] Goniewicz ML, et al. Levels of selected carcinogens and toxicants in vapour from electronic cigarettes. Tobacco Control. 6-3-2013. http://tobaccocontrol.bmj.com/content/early/2013/03/05/tobaccocontrol-2012-050859.abstract

[13] McAuley TR, Hopke PK, Zhao J, Babaian S. Comparison of the effects of e-cigarette vapor and cigarette smoke on indoor air quality. Inhalation Toxicology 2012; 24(12). http://informahealthcare.com/doi/abs/10.3109/08958378.2012.724728

Percuma mikir kalo nggak kritis

November 17th, 2014 § 0 comments § permalink


Indonesia nggak perlu Kementerian Kesehatan kalo fungsinya cuma untuk nyetempel semua instruksi WHO. Mbok coba berpikir kritis dan mandiri, jangan cuma ngikutin press release atau talking points-nya WHO.

Mereka bilang e-cigarette bisa jadi gateway to tobacco use? Coba baca artikel mengenai studi ini. Bayangin, dari 1,300 orang cuma ada satu yang akhirnya merokok? Nggak efisien banget dia sebagai ‘gateway’.

Mereka bilang ecig gak bisa bikin orang berhenti merokok? Jangan-jangan WHO melarang mereka baca studi ini. Uji klinisnya pun udah ada di sini.

Dan yang paling membingungkan adalah klaim soal ecig lebih berbahaya daripada rokok konvensional, itu dasarnya apa coba? Akal sehat aja pasti bisa tau bedanya: Yang satu uap hasil pemanasan cairan dan yang satunya asap hasil proses pembakaran sesuatu. Sudah ada studinya kok bahwa uap ecig lebih aman dari segi sitotoksisitasnya, komposisi karsinogennya, dan emisinya daripada rokok konvensional.

Jangan cuma mikir; mikir yang kritis.

Dilema buah delima

June 23rd, 2014 § 0 comments § permalink


Sebenarnya saya juga sama sekali nggak suka Jokowi. Saya nggak setuju sama ide-idenya, semua policy-nya di Jakarta yang bikin pajak dan cost of doing business and owning capital melonjak, apalagi buat small business, dan dia tampak punya mentalitas crony businessman dan proteksionisme. I really think he’s going to do a lot of harm to the economy with his mercantilistic ideas and I regret having given him my vote for the governorship, though truth be told, my vote does not really matter.

Having said that, rivalnya kian lama kian banyak keluar dengan janji kampanye yang semakin mengerikan bodohnya. This pair is quite likely every single-issue activist’s dream. Seolah-olah apa pun suara terkencang dan paling populis di setiap isu, betapapun bodohnya, diamini oleh mereka. Ada kelompok aktivis yang ribut menuntut ‘penghapusan sistem outsourcing’ tanpa memikirkan dampaknya pada pekerja perusahaan outsourcing yang akan kehilangan kerja dan yang akan menghilangkan efisiensi ekonomi yang dihasilkan perusahaan outsourcing? Ayo kita dukung. Ada yang minta pasar tradisional dilindungi betapa pun tidak efisiennya sebagian besar pasar tradisional dan korupnya birokrasi pengelola pasar? Ayo kita rekrut pentolannya. I bet kalo tambah kenceng ada yang minta upah minimum naik 100%, dan membuat small business pada berguguran dia bakal iyakan juga. And the list goes on.

Dan jangan lupa pasangan ini digawangi bekas menantunya he who shall remain nameless gitu loh. Seriously masih belom kapok 3 dekade dikadalin oleh tim cendana? Siapapun yang bilang lebih enak jaman orba is seriously misinformed or just plain stupid,… well or mungkin dulu bagian dari kroni dan beneficiary cendana dan oligarkinya. Segimanapun jelek dan keparat kondisi sekarang kita jelas punya sebersit (sungguh pun cuma sebersit) satu hal yang dulu cuma bisa diimpi-impikan: Freedom. You think kita bisa ngomong kayak gini di sosmed atau blog di jaman orba? Pernah denger yang namanya kopkamtib? Menurutlo koran dan wartawan bisa ngasih komentar politik tolol mereka kayak sekarang di jaman orba? Sana coba cari artinya ‘persbreidel’. What, you don’t like the mess that goes with freedom? Go live in harmony in the darkness of North Korea.

Tau yang lebih parah lagi nggak? Pasangan ini bahkan mencoba mengambil personanya Sukarno. You’d think that anyone would be insane to want to channel out two of the worst villains of the 20th century. But nooo, a lot of lost souls actually ate it all up with gusto. Ada yang bilang Sukarno itu hebat, visioner. Lihat semanggi, gelora senayan, monas. Yes, lihat semanggi, gelora senayan, monas, etc. yang dibangun ketika many of the people were eating their own poop dan mengakibatkan hiperinflasi hebat. Elo kira dua hal itu nggak berhubungan? Do you think pemerintah/negara dapet duit buat bikin proyek-proyek supermubazir itu dari langit? Of course no! Pemerintah/negara cuma bisa dapet duit dari satu sumber: You, the private people. Kalo ada yang bilang mereka pingin punya negara yang kuat, itu artinya mereka pingin dirampok sampai miskin oleh negara, dan ide tolol itu yang dimanfaatkan Sukarno untuk memperkaya dirinya sendiri beserta kroninya at the expense of millions of gullible people.

Yes I am a libertarian voluntaryist. I believe in the free market and the creative destruction that it entails, which is necessary if you want to lift people out of poverty. I do not believe in coercion, and that’s what government is all about. Situ mau kaya dan sejahtera? Kemungkinannya lebih besar kalo Anda hidup di masyarakat yang bebas melakukan kegiatan ekonomi tanpa campur tangan pemerintah/negara. Lihat Argentina. Punya minyak dan gas alam banyak, tanahnya subur, punya uranium lagi! Kalo Anda pikir Indonesia kaya sumber daya alam, sepertinya nggak ada apa-apanya dibanding Argentina. Dulu negara ini beneran kaya gemah ripah loh jinawi, bahkan GDP-nya hampir sebanding dengan Amerika di awal abad 20. Tapi setelah terjerumus ke ideologi sesat nasionalisme, intervensionisme pemerintah dan militarisme seperti yang diusung Juan Peron dan para penerusnya hingga Cristina Kirchner sekarang, ekonominya selalu cuma berputar dari krisis satu ke yang lain. Situ tau Hong Kong? Keren kan? Maju, kaya dan sejahtera. Itu dulunya gak lebih dari sarang penyamun dan pemadat. Dia punya banyak sumber daya alam? Cuma ada batu karang dan lumut di situ. Asetnya cuma dua: Pelabuhan yang lokasinya pas banget dan filosofi pemerintah yang berkomitmen untuk tidak menghambat orang berkegiatan ekonomi yang diwariskan dari John James Cowperthwaite. Lebih kaya mana Argentina atau Hong Kong? Silakan cari sendiri jawabannya, dan silakan pilih mau jadi seperti yang mana.

Jokowi jelas jauh dari sosok Lee Kuan Yew yang ngerti bahwa institusi negara nggak akan survive kalo nggak didukung oleh ekonomi yang bebas, apalagi dari sosok penyokong free market sejati seperti Cowperthwaite. Tapi kalo ngelihat pasangan saingannya yang janji dan retorika kampanyenya semakin memburuk dan membodohi orang ini dan sepertinya kian naik profilnya, I’m starting to think that I may have to reconsider my position.

When something is free, nobody is responsible

December 14th, 2013 § 0 comments § permalink

This was an online polling at tempo.co:


The poll asks whether ‘Bintaro II’ tragedy has managed to deter people from ignoring railroad crossing barriers. Bintaro II tragedy of course refers to the recent collision between a commuter train and a fuel truck, killing a number of people as a result. Earlier in 1987, another accident took place around the Bintaro area where two commuter trains collided head on, killing 156.

A natural tendency after a disaster is to blame it on someone. In the recent accident, the popular verdict is to rest the blame on the driver of the fuel truck, which is also implied in the Tempo poll. I’ve also had Facebook friends posting comments to admonish people who don’t wear helmet, jaywalkers and other kinds of traffic miscreants recently.

Of course, it was wrong for the truck driver to ignore the warning signs and the barrier, knowing full well of the risk involved. But a more important point that is missing from the discourse is who the ultimate blame should be with.

Imagine what would happen when someone at a Coca Cola bottling plant inadvertently spilled a toxic substance into the bottles, killing Coca Cola customers as a result. What would predictably happen is calls for boycott against Coca Cola, government investigation, or even criminal charge against the company.

This would be totally acceptable, because it is the company managers’ responsibility to ensure that their operations are safe and guarded against any risk.

Now why hasn’t this happened with the Bintaro accident, or most other public transit accidents for that matter? First of all, many people might not realize that just because something is ‘public’ doesn’t mean nobody is responsible for it. Public transit is an economic good, because it is scarce and there is demand for it. Just because it is socialized and provided by the government (rail transport is also managed by a government owned company here), doesn’t make it less of an economic good.

What happens to an economic good in a free market is that it is subjected to constant improvement due to competitive forces. Take that free market away by imposing a government monopoly, and you lose the competitive factor and therefore improvement.

In the Bintaro accident, you have a provider of rail transport failing from making sure that the path of their trains is cleared, and you have a provider of roads failing to ensure that drivers cannot cross railroad crossing when trains pass.

Why aren’t people clamoring for a boycott against these providers?