Kenapa yang dilarang tidak hilang?

May 1st, 2015 § 0

war-on-drugs

A: Sukurin tuh ada lagi orang osi yang ketangkep bawa obat! Ribut melulu sih!
B: Kesian.
A: Biarin aja. Nyebelin.
B: Gue sih gak tega.
A: Emang kenapa sih? Pengedar aja dibelain?
B: Gue gak setuju pemerintah dibolehin membunuh orang.
A: Tapi kan di sini peraturannya emang gitu?
B: Gini aja sih, elu pernah berurusan sama hukum nggak?
A: Pernah, emang kenapa?
B: Menurutlo elo diperlakukan secara adil ketika berurusan sama hukum?
A: Hmmm, ya nggak jelas juga sih.
B: Elo pernah denger gak orang kemalingan ayam kalo dibawa ke polisi jadi kehilangan kambing?
A: Iya juga sih, tapi itu kan oknum.
B: Ya sekali dua kali sih oknum, tapi kalo begitu sering terjadinya sampai ada anggapan umum seperti itu masak masih nyalahin oknum?
A: Ya mungkin sistem hukum kita memang belom sempurna sih…
B: Nah elo yakin sistem hukum yang ‘belom sempurna’ itu, yang bisa bikin orang kehilangan ayam jadi kehilangan kambing, yang bisa membuat pejabat berekening gendut gak jelas sumbernya bebas melenggang tanpa konsekuensi, menurutlo sistem seperti itu bisa dipercaya menentukan hidup-matinya seseorang?
A: Tapi kan emang peraturannya begitu?
B: Iya ya? Tapi kan grasi juga salah satu bagian dari peraturan yang berlaku di sini. Apa pun kata pengadilan, sebetulnya harusnya selalu masih ada ruang untuk memberikan pengampunan. Biasanya sistem hukum masih menyisakan ruang bagi empati dan kemanusiaan, karena sebagus apa pun suatu sistem hukum, dia tetap aja buatan manusia dan dijalankan oleh manusia, semuanya bisa melakukan kesalahan. Misalnya di sistem Common Law, untuk kasus kejahatan serius biasanya melibatkan orang biasa yang ditunjuk untuk menjadi juri. Di sistem hukum di sini, ruang bagi empati dan rasa kemanusiaan itu antara lain diberikan lewat grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi. Memang peraturan yang ada mengancam hukuman mati untuk kasus terkait narkoba, tapi bukan berarti yang terkait kasus narkoba harus selalu dijatuhi hukuman mati.
A: Ya yang berhak ngasih grasi kan presiden, dan dia udah berjanji nggak akan ngasih grasi untuk kasus narkoba.
B: Nah itu juga perlu dikritik sebetulnya.
A: Kenapa?
B: Itu menurut gue dia sama saja nggak mau melakukan tanggung jawabnya untuk jadi pengimbang kekuasaan kehakiman. Artinya dia nggak mau melihat secara kasus per kasus apakah ada unsur lain yang sebetulnya bisa dijadikan pertimbangan untuk meringankan hukuman yang diberikan kepada seorang terpidana. Padahal, grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi juga adalah bagian dari sistem hukum di sini. Bisa dibilang bagian penting malah.
A: Dia kan merasa narkoba adalah masalah darurat bagi bangsa. Jadi harus dihukum seberat-beratnya.
B: Itu juga yang bikin sebagian orang geregetan sih.
A: Kenapa?
B: Di berbagai tempat di dunia, orang mulai menyadari bahwa melarang narkoba justru merugikan, bukan membantu menyelesaikan masalah narkoba, dan mulai mencermati apakah sebetulnya masalah yang selama ini dianggap merupakan akibat penggunaan narkoba sebetulnya justru merupakan ekses dari pelarangan narkoba.
A: Wah, ngaco banget tuh. Maksudnya gimana?
B: Ya misalnya yang menurutlo masalah karena penggunaan narkoba itu apa?
A: Ya drugs itu kan adiktif banget. Bahaya bagi siapa pun yang mengonsumsinya.
B: Emang betul, zat-zat yang termasuk psikotropika atau mind-altering drugs itu cenderung adiktif, tapi kecanduan itu sebetulnya masalah kriminal atau masalah kesehatan? Selain itu banyak juga lho zat-zat yang bisa dikonsumsi secara legal juga tak kalah mencandunya. Rokok, misalnya. Elu ngerokok kan?
A: Iya.
B: Bagaimana kalo rokok dilarang?
A: Berarti gua harus berhenti ngerokok.
B: Nah elo mungkin bisa begitu, tapi sebagian orang yang lain, mungkin yang sudah sangat kecanduan, mungkin akan mencari sumber lain yang tidak legal kalo rokok dilarang. Artinya melarang sesuatu bukan berarti sesuatu itu akan lenyap begitu saja dari muka bumi. Inget kan hukum supply and demand? Kalo sesuatu itu dilarang, supply-nya kan jadi berkurang, padahal biasanya akan tetap ada demand-nya. Karena itu, harganya jadi tinggi dan karena harga yang tinggi itu, pasti tetap ada yang akan tertarik untuk ‘gambling’ dan mencoba jadi pemasok barang itu, karena potensi untungnya gede banget. Padahal kalau sesuatu itu tidak legal, jadi sulit kan memastikan produk itu aman dan produsennya bertanggung jawab?
A: Iya lah, mereka dianggap penjahat kan berarti?
B: Betul, dan menurut “iron law of prohibition” semakin keras suatu zat dilarang, semakin tinggi potency zat tersebut di pasar gelap. Itu juga udah pernah diteliti oleh Mark Thornton dari Cato Institute (http://www.cato.org/pubs/pas/pa-157.html). Dan memang benar, semakin besar dana penegakan hukum narkoba di AS, semakin tinggi tingkat potency marijuana yang beredar di sana. Jadi mungkin bisa dibilang juga masalah kecanduan obat itu salah satu penyebabnya adalah justru karena obat itu dilarang.
A: Jadi menurutlo orang harusnya bebas aja jual beli narkoba?
B: Menurut gue masalah narkoba jangan lagi dilihat sebagai masalah kriminal, tapi ditangani dengan pendekatan kesehatan masyarakat. Gue juga nggak pake narkoba dan nggak mau anak dan keluarga gue pake narkoba, tapi menurut gue melarang narkoba sebagai perkara kriminal itu seperti menyembunyikan masalah itu di balik karpet dan menganggapnya seolah-olah nggak ada.
A: Tapi kan gambling banget tuh kalo misalnya narkoba dibolehin, terus masalahnya jadi tambah parah gimana?
B: Udah ada beberapa tempat yang mendekriminalisasi kepemilikan narkoba sih. Yang sering dijadikan contoh Portugal, misalnya. Di situ, mereka ngeluarin UU baru tahun 2001 yang menghilangkan hukuman pidana atas kepemilikan narkoba bagi penggunaan pribadi. Hasilnya menurutlo apa?
A: Tambah banyak dong yang ngobat di sana?
B: Justru sebaliknya, tingkat penggunaan narkoba di sana malah turun secara bertahap. Di kalangan remaja kelas 7-10, misalnya, turun dari 14,1% jadi 10,6%. Begitu juga di kalangan siswa SMA. Yang mengesankan, berbagai konsekuensi negatif penggunaan narkoba paling drastis turunnya. Misalnya, infeksi HIV di kalangan pengguna turun dari 1.400 kasus di tahun 2000 jadi tinggal 400 kasus di tahun 2006. Jumlah kematian karena overdosis turun hampir setengahnya. Coba deh elo baca sendiri laporannya di sini: http://object.cato.org/sites/cato.org/files/pubs/pdf/greenwald_whitepaper.pdf
A: Terus berarti kalo banyak yang mulai mencoba dekriminalisasi gitu, kenapa di sini belom kedengeran apa-apa ya?
B: Ya nggak tau juga. Bisa jadi karena selalu ada kelompok yang berkepentingan dengan adanya perang terhadap narkoba ini.
A: Kepentingannya gimana?
B: Misalnya badan atau organisasi yang diserahi tanggung jawab memerangi narkoba. Semakin masyarakat merasa ‘terancam’ oleh masalah narkoba, semakin besar tekanan untuk memeranginya, dan semakin banyak dana yang dialokasikan untuk kepentingan itu. Menurutlo kira-kira siapa yang dapat dananya?
A: Mereka pastinya.
B: Betul, dan banyak juga orang-orang yang berpengaruh, pejabat pemerintah, petinggi militer, dll, yang ada di situ. Dan jangan lupa, bandar dan pengedar narkoba juga diuntungkan oleh status narkoba yang ilegal. Kalau bisnis narkoba dilegalkan dan dilakukan secara terbuka, semakin banyak pihak yang akan memasuki bisnis tersebut sehingga kompetisinya semakin banyak dan harganya akan turun. Artinya mereka tidak lagi bisa menikmati laba berlipat-lipat seperti sekarang ini.

§ Leave a Reply

What's this?

You are currently reading Kenapa yang dilarang tidak hilang? at The Gado-Gado Notes.

meta